rubicnews.com 2 Agustus 2026 Oleh Desy Ariyani Sumber →

Puisi-puisi demonstrasi karya Taufiq Ismail dinilai memiliki kekuatan karena mampu merekam peristiwa politik secara langsung tanpa terjebak menjadi slogan kosong.

Karya-karya tersebut lahir dari proses aksi dan menghadirkan kesaksian real-time mengenai situasi di lapangan melalui bahasa personal yang dekat dengan pengalaman sosial.

Hal tersebut disampaikan oleh Prof Dr Faruk Tripoli SU dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam diskusi Tukar Tutur Sastra bertema “Nurani Indonesia untuk Nobel Sastra” yang digelar Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI), Sabtu (1/8/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Faruk memaparkan materi “Catatan Kecil Tentang Puisi-Puisi Demonstrasi” karya Taufiq Ismail. Ia membahas keterkaitan puisi dengan politik serta posisi karya sastra dalam merekam berbagai peristiwa yang terjadi dalam perjalanan bangsa.

Diskusi diawali sambutan Taufiq Ismail yang menyampaikan terima kasih atas dukungan HISKI. Acara kemudian dilanjutkan Ketua Umum HISKI Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum.

Novi menyampaikan bahwa HISKI sebagai organisasi profesi terus memberikan dukungan terhadap Taufiq Ismail untuk mendapatkan Nobel Sastra.

Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya HISKI memperkenalkan kontribusi Taufiq Ismail dalam perkembangan sastra dan perjalanan sejarah Indonesia.

Menurut Novi, sastra merupakan ekspresi personal yang berkaitan erat dengan konteks sosial. Karya sastra juga dapat merepresentasikan semangat alam dan zaman, termasuk perjalanan sejarah bangsa.

“Bagaimana dengan sastrawan Taufiq Ismail yang kita deklarasikan sebagai calon penerima Nobel Sastra?” ujar Novi.

Dalam puisi “Dengan Puisi Aku”, Taufiq Ismail menempatkan puisi sebagai media untuk mengekspresikan berbagai pengalaman batin, mulai dari kesukaan, kedukaan, kesedihan, kemarahan, hingga keimanan.

Puisi tersebut juga merepresentasikan kepasrahan manusia terhadap penyelenggaraan Sang Khalik. Bagi Taufiq, puisi tidak hanya menjadi sarana menyampaikan gagasan, tetapi juga medium untuk mengungkapkan pengalaman personal dan spiritual.

Faruk menjelaskan, puisi memiliki hubungan erat dengan politik. Menurut dia, terdapat puisi kesaksian yang lahir langsung dari sebuah peristiwa dan ada pula puisi yang bersifat kritis setelah peristiwa berlangsung.

Faruk menilai seluruh wacana, termasuk puisi, bersifat ideologis sehingga tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari politik. Karya sastra yang lahir dalam konteks tertentu dapat menjadi bagian dari cara penyair merespons kondisi sosial dan politik di sekitarnya.

Sejumlah sastrawan seperti Rendra, Seno, Pramoedya, dan Taufiq Ismail disebut memiliki karya yang dekat dengan berbagai peristiwa politik. Namun, mereka lebih banyak tampil sebagai saksi atas peristiwa, bukan sebagai pelaku.

Dalam konteks demonstrasi, puisi dapat berfungsi sebagai pamflet maupun slogan tandingan. Puisi bahkan dapat digunakan untuk melawan slogan pihak lain melalui penggunaan metafora dan bahasa satir.

Namun, menurut Faruk, puisi demonstrasi Taufiq Ismail memiliki karakter yang khas. Karya tersebut lahir dari dalam proses aksi itu sendiri tanpa terjebak pada slogan kosong.

Puisi-puisi tersebut menghadirkan kesaksian real-time dari lapangan. Dalam karya Taufiq, mahasiswa ditempatkan sebagai “anak-anak” yang membutuhkan dukungan dari rakyat.

Faruk mengakui puisi yang lahir dari peristiwa politik memiliki risiko terperangkap dalam klaim kebenaran sepihak. Namun, Taufiq Ismail dinilai mampu menghindari kecenderungan tersebut.

Karya-karya Taufiq, menurut Faruk, justru mendorong aksi melalui bahasa yang personal dan dekat dengan pengalaman sosial.

Dengan demikian, imbuh Faruk, puisi demonstrasi Taufiq Ismail tidak hanya merekam dinamika politik, tetapi juga menghadirkan pengalaman manusia yang berada di tengah peristiwa tersebut.***