https://www.rubicnews.com/news/45317455018/hiski-dukung-taufiq-ismail-raih-nobel-sastra-karyanya-tengah-diterjemahkan-ke-bahasa-swedia 2 Agustus 2026 Oleh Desy Ariyani Sumber →

Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) terus memperkuat dukungan terhadap Taufiq Ismail untuk meraih Nobel Sastra.

Selain deklarasi dukungan yang dilakukan sebagai organisasi profesi, upaya tersebut juga mendapat dukungan dari Minang Diaspora, komunitas sastra, akademisi, serta kolega dari luar negeri. Karya Taufiq Ismail bahkan saat ini tengah diterjemahkan ke dalam bahasa Swedia.

Hal tersebut disampaikan Dr. Tengsoe Tjahjono, M.Pd. dari Universitas Brawijaya (UB) dalam diskusi Tukar Tutur Sastra bertema Nurani Indonesia untuk Nobel Sastra yang digelar HISKI, Sabtu (1/8/2026).

Diskusi tersebut menghadirkan Tengsoe dan Prof. Dr. Faruk, S.U. dari Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai narasumber. Keduanya membahas karya Taufiq Ismail dari perspektif nasionalisme, kemanusiaan, sejarah, hingga keterlibatannya dalam merekam berbagai peristiwa politik melalui puisi.

Tukar Tutur Sastra diawali sambutan Taufiq Ismail yang menyampaikan terima kasih atas dukungan yang diberikan kepadanya. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Umum HISKI Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum.

Novi menyoroti antologi puisi Tirani dan Benteng sebagai bukti keberanian dan totalitas Taufiq Ismail dalam menyampaikan catatan sejarah alternatif. Karya tersebut dinilai mampu menghadirkan detail peristiwa dengan sentuhan afeksi yang lembut, halus, serta sarat empati dan kemanusiaan.

Menurut Novi, karya Taufiq Ismail melengkapi informasi sejarah formal yang cenderung mengutamakan aspek kognitif. Melalui puisinya, Taufiq menghadirkan pengalaman rakyat kecil yang mengalami langsung berbagai peristiwa sejarah. “Taufiq Ismail melengkapi informasi sejarah formal yang cenderung mengutamakan aspek kognisi.

Taufiq Ismail melengkapi dengan memfokuskan pada peristiwa yang dialami rakyat kecil dengan sentuhan emosi dan kognisi yang dalam,” ujar Novi.

Tengsoe menjelaskan, HISKI menjadi pihak yang mengusulkan Taufiq Ismail sebagai kandidat penerima Nobel Sastra. Dukungan juga datang dari Minang Diaspora, komunitas sastra, akademisi, dan kolega luar negeri yang telah mengirimkan surat dukungan.

“Saat ini karya Pak Taufiq juga sedang diterjemahkan ke Bahasa Swedia,” ungkap Tengsoe.

Menurut dia, penerjemahan karya Taufiq Ismail ke bahasa Swedia menjadi salah satu bentuk penguatan dukungan dalam upaya memperjuangkan Taufiq Ismail meraih Nobel Sastra.

Selain membahas dukungan terhadap pencalonan Taufiq, diskusi juga menyoroti karakter puisi-puisi demonstrasinya. Faruk menilai puisi Taufiq yang lahir dari proses demonstrasi memiliki keunggulan karena tidak terjebak dalam slogan.

“Keterlibatan dalam peristiwa politik dapat membuat puisi yang lahir darinya terperangkap dalam slogan, klaim kebenaran yang abstrak tapi sarat dengan kepentingan sepihak. Namun, karya Taufiq Ismail terhindar dari kecenderungan tersebut,” jelas Faruk.

Menurut Faruk, karakter tersebut menunjukkan gejala yang langka dalam karya sastra. Taufiq mampu merespons fenomena sosial dan mengangkatnya ke dalam puisi tanpa kehilangan kaidah-kaidah estetis.

Keunggulan tersebut sekaligus menjadi bentuk kebaruan dalam proses kreatif Taufiq Ismail. Peristiwa sosial dan politik diolah menjadi karya sastra dengan tetap menghadirkan sentuhan afeksi yang mendalam.

Setelah pemaparan narasumber, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Peserta dari Tuban, Titik Istiana, menanyakan tips menjadi penulis puisi yang kritis dengan tema nasionalisme.

Titik juga menyoroti sosok Taufiq Ismail yang dinilai memiliki karakter religius, revolusioner, dan edukatif.

Peserta lainnya menanyakan peluang Taufiq Ismail mendapatkan Nobel Sastra jika dibandingkan dengan Han Kang dari Korea Selatan yang telah lebih dahulu meraih penghargaan tersebut.

Kegiatan yang dimoderatori Dr. Endah Imawati, M.Pd. itu disiarkan secara langsung melalui Zoom serta kanal YouTube HISKI Pusat dan Tribun Jatim.***