Jenis
Karya

Secara kuantitas, sejak awal kepenyairannya tahun 1950-an, sampai kini, memasuki usia ke-92 tahun (lahir di Bukittinggi, 25 Juni 1935), puisi-puisi Taufiq Ismail boleh jadi sudah mencapai ribuan halaman. Sejak usia 15 tahun, ketika duduk di sekolah menengah pertama, beberapa puisinya dimuat di surat kabar lokal di Pekalongan, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Sejak itu, kiprah kepenyairannya diakui secara nasional ketika puisi-puisinya kerap menghiasi beberapa majalah terkemuka terbitan Jakarta (E.U. Kratz, 1988).

Dari jumlah itu, kita dapat mencermati sikap kepenyairannya: tetap teguh, kokoh menegakkan kebenaran, keadilan, dan nilai kemanusiaan. Maka, puisi-puisi Taufiq Ismail menjadi sangat kontekstual sebagai saksi bicara zamannya. Ia bukan penyair salon yang sibuk dengan dirinya sendiri. Ia penyair yang peduli dan concern pada peri kehidupan sekeliling: masyarakat, kebudayaan, dan lingkungan alam. Ia tidak pernah mengabaikan tanggung jawab sosial dan martabat kemanusiaan. Jadilah, hampir keseluruhan puisi-puisinya mewakili suara masyarakat yang tertindas, dan sekaligus juga meneriakkan harapan sebuah bangsa besar yang bernama Indonesia, sebagaimana dinyatakan dalam puisinya, “Dengan Puisi Aku”.

Dua antologi puisinya yang fenomenal, berjudul Tirani dan Benteng (1993) dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999). Keduanya laksana catatan perlawanan ketika rezim penguasa menutup mata pada kepentingan bangsanya. Lebih daripada itu, puisi-puisinya laksana potret sosial zamannya: mencatat berbagai peristiwa dan sekaligus menegaskan posisi kepenyairannya yang tidak mau berpangku tangan ketika melihat rezim penguasa melakukan penindasan pada rakyatnya sendiri.

Dalam Tirani dan Benteng, pembaca dihadapkan pada fakta historis, bagaimana Partai Komunis Indonesia (PKI) bersama seluruh organ pendukungnya menginjak peradaban, mencampakkan nilai-nilai spiritual, membenturkan sesama warga bangsa, dan membunuh kebebasan berpendapat. Jargon “politik adalah panglima” telah menjebloskan Indonesia waktu itu ke dalam suasana khaos yang mengerikan. Kebudayaan bangsa berubah menjadi kepentingan partai. Taufiq Ismail, lewat puisi-puisinya tegas menentang kekacauan itu, meski ia harus menghadapi risiko intimidasi, teror, pemecatan, dan pembunuhan karakter. Maka, puisi-puisinya dalam antologi itu menjadi satu-satunya buku antologi puisi Indonesia yang berhasil memotret zaman kegelapan dari perspektif perlawanan mahasiswa dan rakyat dalam ikut terlibat menumbangkan tembok kekuasaan yang sangat represif. Sebuah antologi puisi ikonik yang pengaruhnya ikut mewarnai perjalanan sejarah bangsanya. Dapat dipahami, jika Tirani dan Benteng menjadi salah satu buku puisi yang paling dikenal luas di kalangan para pelajar Indonesia, seperti juga buku puisi Chairil Anwar, Deru Campur Debu dan Aku ini Binatang Jalang.

Dalam Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia suara dalam puisi-puisi Taufiq Ismail, tampak lebih fundamental. Ia tidak hanya mencatat gerakan mahasiswa yang menggelinding menjadi gelombang reformasi, tetapi juga membongkar kebengisan rezim penguasa yang korup, yang membungkam demokrasi, yang mengubah peradaban menjadi kekuasaan. Kembali, Taufiq Ismail menyuarakan perlawanannya atas semua penyelewengan itu.

Bangsa Indonesia yang punya sejarah panjang dunia literasi, berubah menjadi pamer kekuatan senjata yang utama yang menempatkan militer sebagai pemilik negara. Puisi-puisi dalam Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia adalah representasi sikap kepenyairannya yang berharap mengembalikan Indonesia terbebas dari penjajahan bangsanya sendiri. Maka, bagi Taufiq Ismail tidak berlaku pemeo: right or wrong is my country. Baginya Indonesia harus menegakkan kebenaran, keadilan, dan pemihakan pada rakyat, pada kemanusiaan. Pilihannya hanya satu: right and right is my country.


Puisinya yang berjudul “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” laksana catatan biografis perjalanan kepenyiran Taufiq Ismail yang tak pernah lelah mengecam kebrengsekan penguasa otoriter. Setiap bait dalam puisi itu seolah-olah menggambarkan potret penyelewengan rezim yang berkuasa. Oleh karena itu, puisi ini sangat kontekstual dengan peristiwa zamannya. Di situlah, Taufiq Ismail tampil sendirian di tengah begitu banyak kerumunan penyair salon. Inilah antologi puisi yang menguak begitu banyak kebrengsekan terjadi dalam dua periode pemerintahan Indonesia.


Itulah dua antologi—dalam sejarah sastra Indonesia—yang ikonik. Sebuah catatan penting tentang dua peristiwa dalam dua periode yang berbeda (masa Demokrasi Terpimpin, 1959-1965 dan masa Orde Baru, 1966—1998). Meski dalam bentuk puisi, bagaimanapun juga, catatan itu menyimpan sejarah, mengabadikan ingatan kolektif, dan menjadi cermin
buram masa lalu yang tidak boleh terulang lagi.

Sebagai penyair, Taufiq Ismail telah menjalankan tugas kepenyairannya yang berhasil mengartikulasikan suara kepedihan nasib wong cilik yang tak terucapkan oleh penyair lain. Tetapi kesadarannya tidak cuma sampai di sana. Taufiq Ismail tidak cukup bicara lewat puisi. Ia berbuat dan bertindak.

Oleh karena itu, sejak tahun 1999 dan terus berlanjut hingga lebih dari satu dekade, ia memasuki dunia pendidikan, berinteraksi dalam aktivitas kehidupan guru lewat Program Pelatihan Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra (MMAS). Tanpa perlu berkhotbah tentang teori, Taufiq Ismail menawarkan model pengajaran bahasa dan sastra di sekolah. Dari 30 angkatan, tercatat lebih 1500 guru bahasa (Indonesia) yang mewakili sekitar 600-an Sekolah Lanjutan Atas dari hampir seluruh provinsi di Indonesia, terlibat aktif mengikuti program ini.

Lalu, apa hasilnya? Para guru lebih percaya diri mengajar di depan kelas dengan metode pembelajaran yang lebih variatif. Para siswa belajar bahasa dan sastra Indonesia dengan riang gembira. Dampaknya adalah mengalir deras puisi, cerpen, dan esai karya para siswa—mahasiswa dan guru yang lalu disalurkan lewat rubrik Kakilangit sebagai sisipan
majalah sastra Horison.