jatim.beritaasia.com 3 Agustus 2026 Oleh Rizal Kurniawan Sumber →

Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) menggaungkan dukungan kepada penyair Taufiq Ismail menuju Nobel Sastra melalui webinar Tukar Tutur Sastra bertema “Taufiq Ismail: Nurani Indonesia untuk Nobel Sastra”, Sabtu (1/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung melalui Zoom dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube HISKI Pusat serta TribunJatim Official itu menghadirkan Prof. Dr. Faruk, S.U. dari Univesitas Gadjah Mada dan Dr. Tengsoe Tjahjono, M.Pd. dari Universitas Brawijaya. Diskusi dipandu Dr. Endah Imawati, M.Pd. sebagai moderator.

Ketua Umum HISKI, Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., mengatakan kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari deklarasi dukungan HISKI kepada Taufiq Ismail menuju Nobel Sastra yang disampaikan pada 2 Juli 2026.

Menurut Novi, karya sastra tidak hanya menjadi ekspresi personal, tetapi juga berkaitan dengan konteks sosial serta merepresentasikan semangat zaman dan perjalanan sejarah bangsa. Posisi itu terlihat kuat dalam sejumlah puisi Taufiq Ismail.

Dalam puisi “Dengan Puisi Aku”, misalnya, Taufiq Ismail menempatkan puisi sebagai media dengan menyampaikan kesukaan, kedukaan, kemarahan, keimanan, dan kepasrahan kepada Tuhan. Sementara itu, antologi Tirani dan Benteng dinilai memperlihatkan keberanian Taufiq merekam pergolakan sejarah dengan sentuhan afeksi, empati, dan kemanusiaan.

“Taufiq Ismail melengkapi informasi sejarah formal yang cenderung mengutamakan aspek kognisi dan miskin afeksi,” kata Novi dalam sambutannya.

Ia mencontohkan puisi “Sebuah Jaket Berlumur Darah” yang merekam semangat melawan tirani. Adapun “Seorang Tukang Rambutan pada Istrinya” memperlihatkan solidaritas rakyat kecil yang membagikan sebagian dagangannya kepada mahasiswa demonstran.

Kritik sosial juga tampak dalam “Oda bagi Seorang Supir Truk”. Puisi tersebut menggambarkan nasib rakyat kecil yang tidak banyak berubah setelah perjuangan berakhir, sementara sebagian orang lain memperoleh kesempatan menduduki jabatan politik.

Novi mengatak dukungan HISKI tidak berhenti pada deklarasi. Organisasi profesi sarjana kesusastraan itu juga menyiapkan buku Taufiq Ismail: Suara Nurani Benteng Bangsa yang telah memasuki tahap penyuntingan awal. HISKI juga merancang rangkaian Tukar Tutur Sastra dengan menghadirkan para penulis sebagai narasumber selama 14 hari.

Puisi yang Lahir dari Pergolakan Politik

Dalam pemaparannya, Prof. Faruk mengangkat maeteri “Puisi dan Politik: Catatan Kecil tentang Puisi-Puisi Demonstrasi Taufiq Ismail”. Ia memetakan beberapa bentuk hubungan antara sastra dan politik.

Pertama, dalam perspektif kajian kritis dan pascastruktural, seluruh wacana, termasuk puisi. dapat mengandung ideologi dan bersifat politis. Kedua, terdapat puisi kesaksian yang mempunyai hubungan dekat dengan peristiwa politik, meskipun penyairnya tidak selalu menjadi bagian langsung dari peristiwa tersebut.

Bentuk ketiga adalah puisi yang lahir dari proses atau peristiwa politik. Menurut Faruk, puisi-puisi demonstrasi Taufiq Ismail berada dalam kategori ini karena tidak sekadar memberi kesaksian, tetapi tumbuh di tengah pergolakan politik dan gerakan mahasiswa.

Puisi semacam itu dapat dibacakan dan disebarkan dalam peristiwa politk. Namun, Faruk mengingatkan bahwa keterlibatan politik juga berisiko membuat karya sastra terperangkap dalam slogan dan klaim kebenaran yang abstrak serta berpihak.

Puisi-puisi demonstrasi Taufiq dinilai mampu menghindari jebakan tersebut. Slogan dalam puisinya tetap berakar pada pengalaman konkret, hubungan sosial yang personal, dan gambaran peristiwa secara langsung di lapangan.

Taufiq juga menempatkan mahasiswa sebagai anak-anak yang membutuhkan dukungan rakyat dan restu orang tua. Kedekatan itu membuat perjuangan politik tidak hadir sebagai gagasan abstrak, melainkan pengalaman manusia yang menghadapi ancaman, ketakutan, dan risiko.

Faruk menyimpulkan bahwa puisi demonstrasi Taufiq merupakan “puisi yang lahir dari dalam proses demonstrasi tanpa terjebak dalam slogan”, sehingga menjadi bentuk karya yang relatif langka.

Nasionalisme yang Berpusat pada Manusia

Sementara itu, Dr. Tengsoe Tjahjono membahas karya-karya Taufiq Ismail melalui materi “Nasionalisme Humanistik: Membaca Indonesia Melalui Puisi Taufiq Ismail”.

Tengsoe menjelaskan, nasionalisme humanistik merupakan kesadaran kebangsaan yang menempatkan martabat manusia, empati, solidaritas, kebebasan, keadilan, dan tanggung jawab moral sebagai dasar kecintaan kepada bangsa.

Dalam pandangan tersebut, bangsa tidak hanya hadir melalui simbol, negara, atau kekuasaan. Bangsa memperoleh wajah melalui pengalaman manusia, terutama anak-anak, mahasiswa, ibu pedangang kecil, pekerja, dan korban kekerasan.

“Bangsa bukan sekadar simbol, melainkan manusia, dengan luka, air mata, harapan, dan keberanian,” demikian kesimpulan yang disampaikan Tengsoe dalam materinya.

Ia menemukan lima gerak utama dalam puisi-puisi Taufiq. Kelimanya meliputi personalisasi bangsa, kolektivisasi suara, lokalisasi sejarah, transformasi kritik menjadi tanggung jawab moral, dan universalisasi pengalaman korban.

Personalisasi bangsa terlihat dalam “Karangan Bunga”. Indonesia yang abstrak dihadirkan melalui tiga anak kecil yang membawa bunga untuk korban penembakan. Relasi politik kemudian berubah menjadi relasi kemanusiaan dan kekerabatan moral.

Kolektivitasi suara tampak melalui perubahan kata ganti “aku” menuju “kami” dan “kita”. Dalam “Sebuah Jaket Berlumur Darah”, kematian seorang mahasiswa tidak hanya menjadi duka individual, tetapi berkembang menjadi kesedihan dan tuntutan keadilan bersama.

Taufiq juga memberikan alamat konkret kepada sejarah. Salemba, Trisakti, jalan raya, kampus, makam, dan tubuh korban menjadi jangkar ingatan kolektif. Sejarah tidak lagi sekadar rangkaian tanggal dan pergantian kekuasaan, tetapi pengalaman manusia yang terluka.

Adapun puisi “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” memperlihatkan kritik sebagai bentuk kecintaan kepada bangsa. Menurut Tengsoe, rasa malu terhadap korupsi, kekerasan, manipulasi kekuasaan, dan ketidakadilan bukanlah penolakan terhadap Indonesia, melainkan tanda keterikatan serta tuntutan moral agar bangsa memperbaiki diri.

Nasionalisme Taufiq juga melampaui batas negara. Melalui puisi “Palestina, Bagaimana Aku Melupakanmu”, penderitaan di dalam negeri menjadi titik berangkat untuk memahami korban kemanusiaan di tempat lain. Solidaritas kebangsaan berkembang menjadi solidaritas universal.

“Indonesia dicintai dengan cara menjaga manusia,” ujar Tengsoe ketika merangkum pembacaannya terhadap puisi-puisi Taufiq.

Kajan Faruk dan Tengsoe bertemu pada satu titik: puisi Taufiq Ismail tidak berhenti sebagai dokumentasi pergolakan politik. Karya-karyanya mengubah peristiwa sejarah menjadi pengalaman kemanusiaan sekaligus panggilan moral untuk mengingat korban, mengkritik ketidakadilan, dan menjaga martabat manusia.

Melalui rangkaian kajian, penerbitan buku, dan diskusi berkelanjutan, HISKI berharap dukungan kepada Taufiq Ismail menuju Nobel Sastra tidak berhenti sebagai deklarasi, tetapi diperkuat melalui pembacaan akademik dan keterlibatan masyarakat sastra Indonesia.