Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) mendorong penguatan nilai nasionalisme humanistik melalui karya-karya Taufiq Ismail sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kontribusi sang sastrawan terhadap bangsa dan kemanusiaan.
Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi Tukar Tutur Sastra bertema “Taufiq Ismail: Nurani Indonesia untuk Nobel Sastra” yang digelar HISKI pada Sabtu (1/8/2026).
Diskusi tersebut menjadi salah satu tindak lanjut dari deklarasi HISKI untuk mendukung Taufiq Ismail meraih Nobel Sastra.
Dalam forum itu, para akademisi membahas karakter karya Taufiq Ismail yang dinilai tidak hanya merekam persoalan kebangsaan, tetapi juga membawa nilai kemanusiaan universal.
Tukar Tutur Sastra diawali sambutan singkat Taufiq Ismail yang menyampaikan terima kasih atas dukungan yang diberikan HISKI. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Umum HISKI Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum.
Novi menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari “Deklarasi HISKI, Taufiq Ismail Meraih Nobel Sastra” yang disampaikan pada 2 Juli 2026.
Dalam pemaparannya, Dr. Tengsoe Tjahjono, M.Pd. menilai puisi-puisi Taufiq Ismail memiliki karakter humanistik. Karya-karya tersebut merepresentasikan keterlibatan dan kecintaan sang penyair terhadap Indonesia sekaligus kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal.
Menurut Tengsoe, nasionalisme humanistik merupakan paham kebangsaan yang menempatkan manusia sebagai pusat utama. Cinta tanah air tidak hanya diwujudkan melalui simbol dan loyalitas, tetapi juga melalui penghormatan terhadap martabat manusia, keadilan, dan nilai kemanusiaan universal.
“Menjadi nasionalis berarti ikut membangun bangsa yang beradab, toleran, dan berpihak pada kesejahteraan rakyat, bukan sekadar retorika,” ujar Tengsoe.
Tengsoe menjelaskan, terdapat tiga poin penting dalam nasionalisme humanistik. Pertama, paham tersebut berlandaskan nilai kemanusiaan seperti gotong royong, empati, dan keadilan sosial.
Kedua, nasionalisme humanistik menolak chauvinisme dan kekerasan atas nama bangsa. Ketiga, paham tersebut mengutamakan dialog, keberagaman, dan demokrasi.
Dengan demikian, nasionalisme tidak hanya dimaknai sebagai rasa bangga menjadi bagian dari Indonesia. Nasionalisme juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama dan upaya membangun kehidupan berbangsa yang beradab.
Nilai-nilai tersebut dinilai tercermin dalam karya Taufiq Ismail yang banyak berbicara tentang Indonesia, perjalanan sejarah, serta persoalan masyarakat.
Karya-karya Taufiq, tidak sekadar menyuarakan kecintaan terhadap bangsa, tetapi juga menghadirkan kepedulian terhadap manusia dan nilai kemanusiaan.***